Perbaharui Hidupmu

Setiap kita pasti punya masa lalu. Baik atau sebaliknya masa lalu itu bergantung bagaimana kita dalam menyikapi hal tersebut. Mungkin masih ada diantara kita yang terpaku dengan masa lalunya. Hei, mau sampai kapan berdiri disitu hanya untuk memikirkan masa yang telah berlalu. Cukuplah hal itu menjadi pelajaran untuk melewati hari-hari berikutnya.

Roda kehidupan terus berputar, banyak hal yang belum kita tau. Karena waktu belajar kita yang sedikit tidak akan membuat kita tau banyak hal. Minimal kita tau ke arah mana jalan hidup ini tertuju.

Alat komunikasi yang kita gunakan sudah mengalami pembaharuan berulang kali. Begitu pun dalam kehidupan, diri ini perlu di upgrade. Penting sekali untuk introspeksi diri.

Tahun 2017 akan segera berakhir. Adakah resolusi ditahun ini yang belum dicapai? Semoga tahun depan BISA tercapai. 😊

Idul Adha Kian Dekat

​Kisah nyata. Walaupun kejadiannya 10 tahun yang lalu tapi bagus untuk mengingatkan kita kembali. Apalagi lebaran haji tinggal lebih kurang satu bulan lagi_
*Copas:*
Kisah ini dituturkan oleh seorang penjual hewan qurban. Ia tak sanggup menahan tangis saat mengetahui siapa sebenarnya orang yang membeli seekor kambing darinya di hari itu. Ketika Anda membaca kisah ini dengan hati, Anda pun dijamin tak kuasa menahan air mata.
*Idul adha* kian dekat. Kian banyak orang yang mengunjungi stan hewan qurbanku. Sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lagi menawar dan alhamdulillah tidak sedikit yang akhirnya membeli. Aku menyukai bisnis ini, membantu orang mendapatkan hewan qurban dan Allah memberiku rezeki halal dari keuntungan penjualan.
Suatu hari, datanglah seorang ibu ke stanku. Ia mengenakan baju yang sangat sederhana, kalau tidak boleh dibilang agak kumal. Dalam hati aku menyangka ibu ini hanya akan melihat-lihat saja. Aku mengira ia bukanlah tipe orang yang mampu berqurban. Meski begitu, sebagai pedagang yang baik aku harus tetap melayaninya.

 

“Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?” sapaku seramah mungkin

“Kalau kambing itu harganya berapa, Pak?” tanyanya sambil menunjuk seekor kambing yang paling murah.
“Itu *700* ribu Bu,” tentu saja harga itu bukan tahun ini. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. “Harga pasnya berapa?”

Wah, ternyata ibu itu nawar juga. “Bolehlah *600* ribu, Bu. Itu untungnya sangat tipis. Buat ibu, bolehlah kalau ibu mau”
“Tapi, *uang saya Cuma 500 ribu*, Pak. Boleh?” kata ibu itu dengan penuh harap. Keyakinanku mulai berubah. Ibu ini benar-benar serius mau berqurban. Mungkin hanya tampilannya saja yang sederhana tapi sejatinya ia bukanlah orang miskin. Nyatanya ia mampu berqurban.
“Baik lah, Bu. Meskipun tidak mendapat untung, semoga ini barakah,” jawabku setelah agak lama berpikir. Bagaimana tidak, *500* ribu itu berarti sama dengan harga beli. Tapi melihat ibu itu, aku tidak tega menolaknya.
Aku pun kemudian mengantar kambing itu ke rumahnya. *Astaghfirullah… Allaahu akbar…*Aku terperanjat. Rumah ibu ini tak lebih dari sebuah gubuk berlantai tanah. Ukurannya kecil, dan di dalamnya tidak ada perabot mewah. Bahkan kursi, meja, barang-barang elektronik, dan kasur pun tak ada. Hanya ada dipan beralas tikar yang kini terbaring seorang nenek di atasnya. Rupanya nenek itu adalah ibu dari wanita yang membeli kambing tadi. Mereka tinggal bertiga dengan seorang anak kecil yang tak lain adalah cucu nenek tersebut.
“Emak, lihat apa yang *Sumi* bawa” kata ibu yang ternyata bernama *Sumi* itu. Yang dipanggil Emak kemudian menolehkan kepalanya, *Sumi*  bawa kambing Mak. Alhamdulillah, kita bisa berqurban”
Tubuh yang renta itu duduk sambil menengadahkan tangan. *Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga Emak berqurban. Terima kasih ya Allah*
“Ini uangnya Pak. Maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk membeli kambing buat qurban atas nama Emak….” kata Bu Sumi.
Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa dalam hati, “Ya Allah… Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa”.
“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu.

“Sudah bu, biar ongkos kendaraannya saya yang bayar”, jawabku sambil cepat-cepat berpamitan, sebelum Bu *Sumi* tahu kalau mata ini sudah basah karena karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
*Untuk menjadi mulia, ternyata tak harus menunggu kaya. Untuk mampu berqurban, ternyata yang dibutuhkan adalah kesungguhan. Kita jauh lebih kaya dari Bu *Sumi*. *Rumah kita bukan gubuk, lantainya keramik. Ada kursi, ada meja, ada perabot hingga TV di rumah kita. Ada kendaraan*. Bahkan, HP kita lebih mahal dari harga kambing qurban. Tapi… sudah sungguh-sungguhkah kita mempersiapkan qurban? Masih ada waktu sekitar satu bulan.
Jika kita sebenarnya mampu berqurban, tapi tak mau berqurban, hendaklah kita malu kepada Allah ketika Dia membandingkan kesungguhan kita dengan Bu *Sumi* Jika kita sebenarnya mampu berqurban, tapi tak mau berqurban, hendaklah kita takut dengan sabda Rasulullah ini:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
*Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban namun dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim)*

Apel Pagi Perdanaku

Suara kokok ayam menyambut fajar. Pertama-tama memulai aktifitas dengan merendah kepada Sang Pemilik kehidupan. Bersujud dan berdoa kepada Allah yang telah memberi kesempatan hidup.

Membiasakan diri untuk beraktifitas di pagi hari, dimulai dari sujud dua rakaat di pagi hari kemudian menyiapkan sarapan dan bergegas mandi. Hari ini saya sengaja mengenakan pakaian dengan atasan putih – rok berwarna hitam dan dipadukan dengan jilbab hitam. Memakai sepatu biru tanpa motif. Bismillah tawakal ilallah. Melangkahlah saya keluar rumah, semoga rizki-Mu terlimpah untuk hamba-Mu yang rajin bangun dipagi hari. Aamiin.

Mengeluarkan motor dari garasi dan bergegas menuju kantor bupati untuk mengikuti apel pagi. Lima belas menit mendengarkan sambutan, dan materi yang disampaikan hanya untuk sedikit arahan saja. Berikut ini kutipan arahan tersebut,

“apapun yang diinstruksikan oleh pimpinan harus dilaksanakan, tak perlu berkomentar dan bertanya mengapa kami diminta berkumpul di tempat pada jam 8.00 Wita.”

“pegawai yang berdomisili jauh dari tempat tugas sekiranya untuk mencari rumah warga di sekitar tempat tugas agar dapat melaksanakan apel pagi dan apel sore.”

Itulah sedikit pemberitahuan saat apel pagi tadi. Selanjutnya saya dan teman-teman kembali ke tempat tugas masing-masing. Ayo kerja! Kerja Bersama!

Sekian 👊

​PENGELOLAAN OBAT DI RUMAH TANGGA (Bagian 2)

Sobat GeMa CerMat, beberapa waktu yang lalu, admin pernah memposting materi tentang Pengelolaan Obat di Rumah Tangga (Bagian 1). 

Setelah itu telah dilakukan diskusi di grup Telegram “Diskusi Obat (GeMa CerMat) pada tanggal 12 April 2017, pukul 19.00 – 21.00 WIB, dengan narasumber Ibu Apoteker Indri Mulyani, S.Farm, Apt.

Bu Indri merupakan apoteker praktisi Puskesmas, sekaligus anggota di Tim Penyusunan Materi Publikasi POR dan GeMa CerMat, Kemenkes.
Dipandu oleh Moderator Niko Rupoko Putro, S.Farm, Apt, dari Indonesian Young Pharmacist Group (IYPG) yang juga anggota di Tim Penyusunan Materi Publikasi POR dan GeMa CerMat, diskusi berjalan dengan lancar dan banyak tanggapan dari anggota.
Berikut ringkasan materi yang disampaikan dan hasil Tanya Jawab pada diskusi tersebut.
Assalamu’alaikum Wr. Wb,
Saya ingin kita memeriksa tempat obat di rumah kita masing-masing. Apa yang kita temukan?

Atau coba ingat-ingat kembali, kapan terakhir kita mengecek obat yang ada di kotak obat. 1 bulan yang lalu? 3 bulan yang lalu atau … wah, tidak ingat ya?
Ternyata;

1. Kotak obat penuh dengan debu

2. Obat-obat bercampur menjadi satu

3. Banyak obat yang sudah hilang tanda expired date-nya

4. Ada antibiotik sisa yang tidak dihabiskan

5. Banyak obat tanpa label kemasan dan kita lupa itu obat apa
Ternyata ada obat yang sudah kadaluarsa yang masih tersimpan di kotak obat.
Permasalahan di atas disebabkan oleh karena kita belum mengetahui cara pengelolaan dan penyimpanan obat yang baik dan benar.
Berikut ini adalah cara penyimpanan obat yg baik dan benar :

1. Baca aturan penyimpanan obat pada kemasan.

2. Jauhkan dari jangkauan anak.

3. Jauhkan dari sinar matahari langsung/ lembab/suhu tinggi dan sebagainya.

4. Simpan dalam kemasan asli dan dengan etiket yang masih lengkap.

5. Periksa tanggal kedaluwarsa dan kondisi obat.

6. Kunci almari penyimpanan obat.

7. Jangan tinggalkan obat  di mobil dalam  jangka waktu panjang karena suhu tidak stabil.

8. Obat dalam bentuk cair jangan disimpan dalam lemari pendingin (freezer) agar tidak membeku, kecuali disebutkan pada etiket atau kemasan.

9. Sediaan suppositoria harus disimpan di lemari es supaya tidak meleleh. 

10. Sediaan aerosol/spray harus dijauhkan dari panas/suhu tinggi karena dapat meledak.

11. Bila ragu/tidak mengerti, tanyakan kepada apoteker atau tenaga kesehatan terdekat.
Banyak masyarakat yang belum mempunyai tempat obat yang memadai, sehingga menyimpan obat dalam:

1. Kantong plastik 

2. Kaleng kue 

3. Kotak / box plastik

4. Dompet 

5. Dll
Belum lagi penyimpanan yang tidak terlindung dari cahaya, panas dan mudah dijangkau anak-anak.

Bagaimana dengan obat yang sudah kadaluarsa? Apakah bapak dan ibu sudah mengetahui cara membuang obat dengan benar?
Saya ingin sharing sedikit pengalaman ketika saya memberikan edukasi obat kepada ibu-ibu rumah tangga di wilayah Kembangan.
Hasil skrining obat di rumah tangga, diperoleh di antaranya: 

1. Obat kadaluarsa

2. Obat rusak

3. Puyer yang sudah lama disimpan

4. Antibiotik sisa
Berikut ciri-ciri Obat Rusak:

– Terjadi perubahan:Warna, bau, dan/atau rasa 

– Bentuk: pecah, retak, berlubang, menjadi bubuk

– Kapsul/puyer/tablet: lembab, lembek, basah, lengket

– Cairan/salep/krim menjadi keruh, mengental, mengendap, memisah, mengeras

– Timbul noda, bintik-bintik, gas

– Wadah/kemasan rusak

– Etiket tidak terbaca/sobek
Obat rusak dan kadaluwarsa harus dibuang dan tidak boleh disimpan.
Berikut cara membuang obat dengan benar:

– Hilangkan semua label dari wadah obat.

– Untuk kapsul, tablet atau bentuk padat lain,hancurkan dahulu dan campur obat tersebut dengan tanah,atau bahan kotor lainnya, masukkan plastik dan buang ke tempat sampah.

– Untuk cairan selain antibiotik, buang isinya pada kloset. Dan untuk cairan antibiotik buang isi bersama wadah dengan menghilangkan label ke tempat sampah.
Intinya: obat harus dimusnahkan dan tidak tersisa.
Demikian materi dari saya, waktu saya kembalikan pada moderator.
TANYA JAWAB DISKUSI
PERTANYAAN 1 (Vivin Diah Ayu)

Bagaimana penyimpanan puyer racikan anak-anak? Maksimal bisa bertahan berapa lama? 
JAWABAN PERTANYAAN 1

Untuk puyer racikan, sebaiknya maksimal disimpan (dalam kondisi baik) yaitu selama 1 bulan. 

Masa kadaluarsa puyer racikan, didasarkan pada BUD (Beyond Use Date) yaitu 25% dari masa ED obat terdekat (sumber: USP, sec.795). Akan tetapi, untuk keamanan saya tetap sarankan maksimal 1 bulan saja.
PERTANYAAN 2 (Sukmawaty Makmur)

Standar penyimpanan obat suhu ruang sekitar 25 derajat. Sedangkan di rumah biasanya lebih dari itu. Apakah bisa mempengaruhi efektivitasnya?
JAWABAN PERTANYAAN 2

Penyimpanan obat di rumah, jika tidak ada AC, maka pilihlah tempat yang paling sejuk. Contoh: di kamar. Jangan menyimpan obat di dekat dapur atau ruang yang terkena matahari langsung. Efektivitas obat dapat terpengaruh oleh rusaknya molekul obat. Namun berapa kadar zat aktif yang berkurang, tentu sulit kita pastikan.
PERTANYAAN 3 (Wahdaniah)

Bagaimana cara penyimpanan obat untuk rumah tangga yang tidak memiliki kotak obat memadai?
JAWABAN PERTANYAAN 3

Cara menyimpan obat di rumah jika tidak ada kotak obat adalah dengan memakai plastik klip obat yang dapat ditulisi keterangan nama obat, fungsi dan tanggal kadaluwarsa obat. Pilah masing-masing obat jangan dicampur. Setelah itu plastik klip tadi kita simpan di box plastik atau wadah lain yang memadai kemudian disimpan di tempat dengan suhu yang sesuai dengan masing-masing obat. Umumnya suhu kamar.
PERTANYAAN 4 (Sumi Komunitas Sehat)

Kalau ada obat sisa dari sepulang dirawat di Rumah Sakit atau misalnya pasiennya keburu meninggal, tapi obat masih banyak dan tidak bisa digunakan, bagaimana sebaiknya? Dibuang atau dijual ke apotek atau bagaimana?
JAWABAN PERTANYAAN 4

Obat sisa dari RS paling aman adalah diserahkan ke puskesmas atau untuk kegiatan bakti sosial. Ini menurut pengalaman yang saya alami. Dulu ada pasien yang menyerahkan obat-obat sisa dari RS dan kami gunakan sesuai kebutuhan.  Tentu, ada berita serah terima obat. Saya tidak menyarankan untuk menjualnya ke toko obat/apotek.
PERTANYAAN 5 (Rifai)

Obat apa yang harus disediakan untuk anak bayi yang hemat (kalo syrup, yang sudah dibuka kan cuma 2 minggu)
JAWABAN PERTANYAAN 5

Untuk bayi, mohon berhati-hati dalam menyediakan obat. Obat yang umumnya boleh disediakan adalah obat penurun panas, obat tertentu seperti obat anti kejang (jika ada riwayat kejang), obat alergi (jika ada riwayat alergi) dan obat-obat yang sering digunakan oleh bayi kita.
Untuk sediaan sirup yang berasal dari serbuk (sirup kering) yang ditambahkan air, ketahanannya adalah selama 14 hari atau 2 minggu disimpan di temperatur dingin (sumber: USP, sec.795). 

Akan tetapi untuk sirup cair sediaan jadi, setelah dibuka dan dijaga kondisi penyimpanan, kebersihan dan fisiknya (warna, bau, rasa, endapan), saya sarankan boleh disimpan selama 6 bulan saja.
PERTANYAAN 6 (Sukmawaty Makmur)

Untuk obat sirup yang telah dibuka, sebaiknya berapa lama bisa di simpan?
JAWABAN PERTANYAAN 6

Sirup yang sudah dibuka tahan 6 bulan dengan syarat kondisi penyimpanan sesuai dan stabilitas obat terjaga (dan belum kadaluwarsa)
PERTANYAAN 7 (Humairoh Anahdi)

Jika obat sisa tidak boleh dijual, apakah memungkinkan jika didonasikan?
Untuk pengelolaan tersebut artinya obat yang berasal dari pasien boleh dipergunakan kembali oleh orang lain selama memenuhi syarat kan?
Adakah undang-undang atau peraturan yang mengatur obat sisa ini di Indonesia? Karena lembaga saya berencana menyalurkan kembali obat sisa pakai yang memenuhi syarat tersebut.
JAWABAN PERTANYAAN 7

Obat sisa RS sebenarnya kalau boleh mengoreksi, untuk sistem obat di rawat inap, dengan sistem unit dose, sehingga diharapkan tidak ada lagi obat sisa. Obat diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien. Kita cermati lagi, berapa banyak obat sisa dari RS yang dibawa pasien? Saya kira tidak akan banyak ya. 
Sharing pengalaman kami, waktu itu keluarga pasien memberikan obat karena pasien meninggal dunia. Obat-obatannya adalah obat penyakit kronis. Ada pula beberapa obat umum dan kami gunakan untuk karyawan yang sakit atau ketika pelayanan Gadar banjir, operasi ketupat/lilin jadi tidak untuk pasien biasa. 
Ya, selama obat kondisinya baik tentu boleh digunakan. Tapi hati-hati juga, karena setiap pasien berbeda-beda kondisi tubuhnya. Oleh karenanya konsultasi dengan dokter dan apoteker sangat dibutuhkan.
Undang-undang tentang obat sisa? Belum ada yang spesifik menyebutkan itu. Akan tetapi bahwa pemerintah wajib menjamin kualitas dan keamanan obat jelas-jelas sudah termaktub dalam UU Kesehatan.
Juga di UU Perlindungan konsumen No.8 th 1999 bab III pasal 4 memuat hak-hak konsumen atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa.
Jika ibu ada wacana menyalurkan obat-obat sisa hendaknya berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait kebijakan untuk mendapatkan arahan yg lebih tepat. Dari IAI ada program yang sedang disosialisasikan yaitu KAOS (Kantong Obat Sisa) untuk menjadi sarana bagi masyarakat dalam mengamankan sediaan obat bekerjasama dengan puskesmas dan apotek terdekat.
Humairoh Anahdi:

Artinya jika obat didistribukan sesuai dengan ketentuan dan memang ada resepnya boleh sebagai sebuah gerakan masyarakat?
Jawaban:

Pada prinsipnya boleh. Untuk  menjaga legalitas akan lebih aman jika kita berkolaborasi dan berkoordinasi dengan pihak penentu kebijakan setempat. Yang terdekat adalah Puskesmas atau suku dinas/dinas kesehatan. Intinya kita tidak bergerak sendiri.  Sehingga gerakan ini menjadi gerakan yang terlindungi.
PERTANYAAN 8 (Rintia Kora)

Untuk obat sisa yang diserahkan ke puskesmas, bagaimana pengelolaannya di puskesmas? Apakah harus tetap menggunakan kartu stok?

JAWABAN PERTANYAAN 8

Obat sisa yang diberikan ke puskesmas dicatat dalam buku saja, karena jumlah obatnya tidak banyak. Yang penting jelas pencatatan dan pengeluarannya.
INFORMASI 1 (Rahmat Santoso)
Sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di apotek, bahwa obat diperoleh dari pedagang besar farmasi (distributor resmi). Bila obat sisa dari pasien atau keluarga pasien dijual ke apotek, hal tersebut tidak dibenarkan dengan alasan apapun. Toko obat berizin juga tidak boleh melakukan hal tersebut. Alur distribusi obat sudah diatur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Berikutnya istilah temperatur dan suhu adalah sama.
INFORMASI 2 (Wenny Yusirman)
Untuk puyer, walaupun belum sampai satu bulan, tapi kalau sudah berubah warna atau sudah lembab/basah, berarti sudah rusak. Jangan digunakan lagi.
Obat sisa RS tidak bisa dijual ke apotik, karena obat yang dijual di apotik, sumbernya harus jelas, dari PBF resmi dan ada bukti faktur pembelian. Baru bisa dijual pada konsumen.
KESIMPULAN MODERATOR

1. Obat bisa dikatakan sebagai media penyembuhan ketika dosis, cara penggunaan serta penyimpanannya telah benar dan sesuai seperti yang telah tercantum dalam kemasan atau yang telah diinformasikan oleh tenaga kesehatan kepada pengguna dan keluarganya. 

2. Obat menjadi bermanfaat ketika digunakan dengan bijak dan tepat.

3. Obat menjadi baik ketika penggunaan serta penyimpanannya pun baik terhadapnya.

4. Karena obat dibuat dengan sepenuh hati maka gunakanlah dengan hati-hati.

Skills Lab II : Edukasi Penggunaan Insulin Pen pada Pasien

medicalstudentnotes

PENDAHULUAN

Sebelum masuk ke materi, dijelasin dulu sebentar tentang diabetes melitus (DM). Diabetes Melitus atau lebih sering dikenal dengan kencing manis merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula (glukosa) di dalam darah yang melebihi nilai normal. Peningkatan kadar gula di dalam darah ini disebabkan karena adanya faktor yang menghambat kerja insulin atau menurunnya jumlah insulin.

Lalu apakah insulin itu? Insulin merupakan hormon yang memiliki efek penting pada metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Hormon ini menurunkan kadar glukosa, asam lemak, dan asam amino dalam darah serta mendorong penyimpanan zat-zat gizi tersebut . Hormon insulin digunakan secara nyata untuk mempengaruhi metabolisme karbohidrat dan protein pada otot rangka. Hormon ini memudahkan penyerapan glukosa dan asam amino ke dalam otot rangka dan hati. Jadi, kalo insulinnya gak ada atau gak sensitif, maka gula tidak akan diproses apa-apa, malah berkeliaran aja di dalam darah sehingga menyebabkan kadar gula darahnya meninggi.

Insulin disekresikan oleh sel…

Lihat pos aslinya 1.557 kata lagi